Perjalanan panjang saya dan Linux

Linux, kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga saya sejak tahun 2003, sudah tujuh tahun saya memakai produk ini, namun saat ini, minat saya sendiri terhadap linux(desktop)  mulai berkurang. Ada banyak hal yangberubah, terutama dari sisi pemakaian linux itu sendiri, Linux saat ini sudah sangat mudah di install dan dipakai, sayangnya dan sekali sayangnya pemakai Linux desktop tetap beranjak dari 1% dari seluruh Komputer di dunia. Ya intinya Linux Desktop Telah mati.

Kembali ke topik, pada tahun 2003, saya pertama kali mengenal distro Slackware yang terus saya pakai sampai tahun 2008, Distro ini sederhana, stabil dan serba “do it yourselft”, 3 hal itulah yang membuat saya suka. Saya mengikuti dan memakai slackware sejak slackware versi 9.x sampai 12.x . Saat ini saya saya sudah beralih ke ubuntu.

Sebenarnya bukan karena slackware tidak bagus, namun karena tuntutan pekerjaan dimana sebagian besar menggunakan ubuntulah yang ” memaksa’ saya untuk beralih ke distro ini, walaupun secara pribadi, slackware tetap yang terbaik. Saya sendiri sudah mencoba puluhan distro dari slackware sebagai distro utama, pernah mencoba redhat, suse,fedora, knoppix dan sederet distro yang kurang populer sudah saya coba, bahkan saya sendiri selama bertahun tahun mengikuti perkembangan rilis distro di distrowatch.com, sayangnya minat mencoba coba distro baru sudah hilang, saya tidak tertarik (terhadap linux desktop).

Sejak pertama kali mengenal linux, saya benar benar mendalaminya, dari membaca tutorial di internet, download ebook sampai baca manual di command line, Memang kalau membahas linux tidak ada habisnya, dari membahas kernel, shell, shellscript, hacking, programing, scripting  sampai membuat distro sendiri pernah saya coba.

Jika sebagian besar orang mengenal ubuntu sekitar tahun 2008, saya sudah memakai ubuntu sejak versi pertama di rilis yaitu versi 4.10, versi yang pertama kali ada , bahkan saya dapat kiriman 50 cd ubuntu free dari ubuntu.com, namun tetap saja linux tidak familiar di pakai dimasyarakat.

Untuk desktop linux sendiri hampir setiap Linux desktops sudah saya coba, dari KDE, Gnome, XFCE, LXDE, twm, Windowmaker dan sederet WM yang lain, menarik memang, tapi ada satu hal yang kurang :” semuanay tidak user friendly”.

Saya membuat distro linux di tahun 2007 dengan panduan dari Linux from strach dimana kita dituntun membuat distro  dari nol, dimulai dari kompilasi kernel, membuat init script, mengcompilasi compiler ( yup, saya harus mengkompilasi GCC menggunakan GCC), sampai membangun desktop, akhirnya berhasil juga , dari sinilah saya akhirnya mendapat gelar S1, mungkin, saaat ini membuat distro sudah cukup mudah, karena semuanya serba otomatis dengan berbagai macam tool yang memungkinkankita membuat distro tinggal click.

Tahun 2008 saya lulus kuliah, saya masih suka menggunakan linux, slackware tetap jadi pilihan utama, namun lama kelamaan pilihan ini hilang karena sejak awal tahun 2009 saya harus mengajarkan linux dengan distro ubuntu, sebagai pengajar yang baik tentunya kita mengikuti siswanya, saat itu tentunya distro super mudah adalah ubuntu. maka sejak akhir tahun itulah ubuntu menjadi distro utama.

tahun 2011 menandakan era baru linux, Linux desktop sudah susah diharapkan untuk bersaing dengan windows apalagi dengan mac, maka saat ini saya masih memakai Linux namun dalam bentuk lain yaitu Gadget Handphone Android. Boleh dibilang, Linux saat ini sudah mendunia tanpa orang sadar bahwa apa yang dia pakai atau dia sentung mempunyai otak linux didalamnya, saya senang!

Kedepannya, ubuntu juga akan mengekspansi pasar smartphone, tablet dan TV cerdas, saya kira itu adalah langkah yang tepat, sekali lagi, ubuntu sudah mati di desktop

Ubuntu dan linux pada umumnya sebenarnya terus berkembang, 90% super computer menggunakan Linux, 500.000 server google menggunakan Linux, Embeded device seperti router, Access Point dan beragam alat jaringan menggunakan linux, keren memang, tapi sekali lagi kita hanya sebagai konsumen

Mimpi saya dulu adalah linux dipakai di berbagai tempat, terutama desktop, ternyata sekarang Linux memang sudah dipakai oleh orang awam di berbagai tempat, namun bukan dalam bentuk desktop, namun Handphone, ablet dan perangkat jaringan.

Mengapa saya cerita panjang lebar tentang hal ini, saya cuman menyarankan anda sebaiknya lebih fokus ke linux untuk server atau untuk embeded system ketimbagn bolak balik mempermak linux desktop anda karena kedepannya desktop bukanlah perkera penting lagi, dekstop war sudah selesai, trend kedepan adalah cloud computing, Social network dan mobile yang notabenenya semua dibangun diatas LINUX.

Harapan saya yang belum terpenuhi adalah, bangsa indonesia adalah pemain di dunia linux, membuat produk berbasis linux, namun sayangnya 1 pun developer kernel tidak ada yang dari indonesia, dari ribuan proyek open source software hanya ada puluhan proyek open source, tiaphari kita koar koar linux open source , open source tidak ada artinya tanpa kita mengomprek dan mengoptimalkanya…herannya tiap hari kita lebih fokus dengan desktop linux yang bisa 3d, animasi keren dan sebagainya, oh my  …….

 

 

 

2 comments on “Perjalanan panjang saya dan Linux

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s